Misteri Mistis "Babacong" Ikon bersejarah di Kota Garut
Mengenal Babancong, Ikon Kota Garut yang Bersejarah
Babancong terletak di depan rumah dinas Bupati Garut, tepatnya di depan pendapa. Dalam tata kota tradisional di Tatar Sunda, babancong merupakan bagian dari alun-alun dan terletak di sebelah selatan alun-alun. Bangunan ini biasanya berada di depan pendapa kabupaten.
Dahulu babancong berfungsi sebagai tempat bagi bupati beserta pejabat pemerintahan lainnya menyampaikan pidato di depan publik serta sebagai tempat untuk para pejabat menyaksikan keramaian di alun-alun.
Bangunan babancong merupakan bangunan panggung, berdenah segi delapan, beratap tajug, dengan delapan pilar berbentuk silinder yang menyangga bagian atap. Di bagian bawah terdapat relung-relung berbentuk lengkung sebanyak delapan buah. Terdapat dua sisi tangga untuk menaiki bangunan, yang saat ini diberi tambahan pintu dari besi. Pipi tangga babancong bermotif lengkung terawangan seperti sisik ular, penutup lantai anak tangga dari keramik, yang tampaknya merupakan penambahan baru. Penutup atap berupa genteng beton berglasur yang juga merupakan penambahan baru. Material penyusun bangunan babancong berupa pasangan bata berplester yang dicat warna putih.
Setiap sudut kota pasti mempunyai bangunan bersejarah yang menjadi cagar budaya. Beberapa bangunan bersejarah itu dapat menjadi ikon sebuah kota. Salah satunya Babancong yang menjadi ikon kota Garut. Bangunan ini berupa bangunan kecil monumental nan unik yang konon katanya hanya ada satu-satunya di Indonesia.Babancong merupakan sebuah bangunan kecil mirip pesanggarahan (tempat peristirahatan atau penginapan milik pemerintah) dengan berbentuk panggung yang berada di sisi selatan alun-alun atau lapangan Oto Iskandardinata Garut. Luasnya mencapai sekitar 15 meter persegi dengan tinggi panggung atau kolong sekitar 2 meter. Bangunan ini memiliki 8 tiang sebagai penyangga atap berbentuk payung geulis dengan ketinggian 7 meter.
Fungsi Babancong
Bangunan ini berdiri bersamaan dengan Gedung Pendopo, Alun-alun, Masjid Agung, dan kantor karesidenan pada waktu pembangunan ibu kota Kabupaten Limbangan pada tahun 1813. Pada zaman pemerintahan Belanda, bangunan mungil ini adalah tempat petinggi Belanda untuk bersantai bersama keluarga. Serta menjadi tempat saat menyaksikan berbagai pertunjukan dari masyarakat Garut.
Selanjutnya, harimau tersebut dilepaskan ke lapangan alun-alun yang sudah terdapat kerbau. Masyarakat menyaksikan pertunjukkan tanpa pelindung pagar pengaman, namun mereka membawa tombak untuk berjaga ketika harimau akan menerjang. Setelah itu, harimau tersebut dimasukkan kembali ke dalam kandang di bawah babancong ketika sudah selesai.
Pada tanggal 5 September 1813, diletakan batu pertama untuk membangun sarana dan prasarana Ibu Kota Kabupaten yang baru dibentuk, yakni Tempat tinggal Bupati, Kantor dan Pendopo, Kantor Asisten Residen, Mesjid, Rumah Tahanan dan Alun-alun yang dikelilingi oleh bangunan tadi.
Meskipun sekarang kantor Pemerintahan Bupati ada di jalan Pembangunan di wilayah Kecamatan Tarogong Kidul, bangunan-bangunan tersebut tetap dipertahankan dengan konsekuensi harus mengalami beberapa kali restorasi.
Kawasan yang ditempati bangunan-bangunan tersebut merupakan kawasan lama yang dikategorikan sebagai Lingkungan Bersejarah yang perlu dikonservasi karena memiliki nilai-nilai penting dari aspek kesejarahan, kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
mantap kak , setelah membaca artikel ini saya menjadi tahu mengenai sejarah babacong garut
BalasHapusMakasih ka sudah komen
HapusJangan lupa ya baca juga artikel artikel lainya 😊
Bagus ka artikelnya 👍👍👍
BalasHapusBanyak membaca banyak pengetahuan.........
BalasHapusjadi ingin ke kampung halaman
BalasHapus